Beranda BERITA UTAMA “Sumatera Darurat Bencana” : Banjir,Tanah Longsor, dan Suara Warga yang Tak Ingin...

“Sumatera Darurat Bencana” : Banjir,Tanah Longsor, dan Suara Warga yang Tak Ingin Lagi Diabaikan.

114
0

Sumatera – Hujan yang turun tanpa henti selama beberapa hari terakhir kembali mengubah banyak wilayah di Sumatera menjadi lautan duka. Banjir menggenangi rumah-rumah, longsor memutus jalan penghubung, dan ribuan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka hanya dengan membawa pakaian yang sempat diraih.

Total korban meninggal dalam bencana banjir dan tanah longsor Sumatera di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini tembus 908. Sebanyak 410 orang masih dinyatakan hilang, dan 4.200 orang mengalami luka-luka. Informasi ini disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui dashboard penanganan darurat pada Sabtu (6/12/2025) pukul 16.47 WIB.

Di beberapa titik, ibu-ibu membawa anaknya melintasi genangan air setinggi pinggang. Para lansia digendong relawan. Anak-anak menangis, kebingungan melihat rumah mereka terendam lumpur. Posko-posko pengungsian mulai penuh, dan dinginnya malam membuat banyak warga sulit tidur. Namun lebih dari itu, ada rasa letih – letih karena harus mengalami hal yang sama setiap tahun.

Di tengah situasi ini, suara kritis dari kalangan muda mulai menggema. Alisman, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, menyebut bahwa bencana ini adalah “jeritan keras dari alam sekaligus bukti lemahnya kebijakan dari para pemegang kekuasaan.”

“kami melihat rumah hanyut, sekolah rusak, warga mengungsi. Tapi perubahan struktural hampir tidak pernah muncul. Negara hadir, tapi selalu terlambat. Yang kami butuhkan adalah pencegahan, bukan sekadar bantuan setelah semuanya hancur,” ujarnya dengan nada yang menggambarkan keprihatinan mendalam.

Ia menegaskan bahwa deforestasi, tata ruang amburadul, dan lemahnya pengawasan izin lahan adalah akar masalah yang selama ini hanya disentuh di permukaan.

“Ini bukan sekadar bencana alam. Ini refleksi dari keputusan politik yang bertahun-tahun mengabaikan keselamatan warga. Banjir dan longsor hanya wajah terakhir dari persoalan panjang yang tak kunjung selesai,” tambahnya.

Di lapangan, relawan terus berjuang. Mereka menembus hujan, memanggul makanan, menyisir rumah-rumah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Setiap hari mereka melihat langsung bagaimana warga bertahan dengan sisa tenaga dan harapan.

Sementara itu, para korban hanya berharap satu hal: rumah yang aman dan negara yang benar-benar melindungi.

Hingga berita ini ditulis, pendataan terus berlangsung. Rasa trauma dan ancaman banjir susulan masih membayangi . Namun di balik kabar buruk itu, satu hal semakin jelas : Sumatera tidak hanya butuh bantuan. Sumatera butuh perubahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini